Mandi Safar, Budaya Religius yang Ditelan Pandemi

  • Share

BUMANTARA.ID – Mandi Safar, salah satu budaya religius yang dibawa secara turun-temurun oleh masyarakat Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Provinsi Sulawesi Utara.

Mandi safar dilakukan oleh masyarakat Bolaang Mongondow Selatan setiap memasuki bulan Safar tahun Hijriyah.

Kegiatan mandi safar ini menurut warga setempat sebagai bentuk ungkapan syukur masyarakat kepada Sang Pencipta atas nikmat dan karunia diberikan selama hidup di dunia.

Mandi Safar dilakukan di sungai dan dianggap penggugur segala bentuk kesialan dan mendatangkan hal yang baik-baik selama tahun berjalan.

Menurut Bupati Haji Iskandar Kamaru yang juga dinobatkan sebagai pemangku adat tertinggi di daerah yang berada di ujung selatan bumi nyiur melambai itu, budaya mandi Safar diyakini sebagai budaya tahunan yang mampu menjauhkan dari bala dan bencana.

Fakta menarik dan bermanfaat

Lanjut bupati, kegiatan Molihu Lolilu ini diselenggarakan setiap akhir bulan Safar.

“Sebagaimana keyakinan leluhur kami dulu, setiap bulan Safar sangat rentang terjadi  musibah atau bencana. Maka dari itu, dimulailah kegiatan mandi Safar ini dilaksanakan sebagai sarana doa bersama untuk diberikan kesehatan dan dijauhkan dari segala bentuk bala dan musibah, serta ajang silaturahmi masyarakat,” ujarnya

Sebelum mandi safar dimulai, masyarakat dianjurkan menuliskan ayat Al-Quran dan nama mereka di daun mangga.

“Ayat dan nama mereka dituliskan oleh pegawai Syar’i dan Imam, selanjutnya dihanyutkan kesungai dengan harapan segala yang dipanjatkan dalam doa,” katanya lagi.

Setiap kegiatan mandi safar, masyarakat ramai-ramai membawa makanan ke lokasi pelaksanaan. Selanjutnya sebelum mandi, dilakukan acara makan bersama. Semenjak pandemi Covid-19 mewabah, kegiatan ini tidak lagi dilakukan, terkahir 2019.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *