Keringat Marwan di Tengah Kebutuhan yang Diabaikan Pemerintah

  • Share
Keringat Marwan
Momen Marwan dan isterinya yang diabadikan di depan rumahnya. (dok/bumantara.id)
Fakta menarik dan bermanfaat

BOLSEL, BUMANTARA.ID – Cahaya matahari tampak samar di pegunungan, lantunan sholawat terdengar lirih menandakan Ba’da Sholat Maghrib tidak lama lagi dikumandangkan di Masjid Al Ikhsan Desa Tolondadu II, Kecamatan Bolaang Uki, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel).

Hari itu, Selasa 19 Oktober 2021. Marwan Pakaya (33) sepertinya baru pulang kerja. Dari kejauhan, lagaknya seperti sedang merogoh kantong di depan pengendara motor, rupanya Ia sedang membayar upah tukang ojek yang baru saja mengantarnya pulang.

Lima belas tahun sudah Ia menjalani profesi sebagai buruh bangunan. Mengemban tanggung jawab sebagai kepala keluarga yang harus menafkahi istri dan dua orang anak memang tidak mudah, apalagi di tengah himpitan pandemi covid-19 seperti sekarang ini.

Rumah semi permanen Marwan yang dibangun di lahan milik tetangganya. (dok/bumantara.id)

Marwan satu di antara banyak pekerja yang tidak memiliki kendaraan pribadi di Bolsel dan harus menjalani mobilitasnya sebagai buruh bangunan.

Tidak adanya angkutan lokal yang disediakan pemerintah menghubungkan desa ke desa yang lainnya, membuatnya harus pandai-pandai menyisihkan upahnya untuk menyewa tukang ojek, kendati ada kebutuhan keluarga yang tidak bisa diabaikan.

Fakta menarik dan bermanfaat

Upah pas-pasan. “100 ribu per hari,” begitu kata Marwan. Setiap hari kerja, Ia harus menyisihkan penghasilannya Rp. 30 ribu untuk membayar jasa ojek.

Sebagai alternatif, menurut Marwan terkadang meminjam kendaraan roda dua milik iparnya.

“Kalau motor ipar tidak dipakai, saya pinjam untuk kerja. Biasanya cuma isi bensin.”

“Ada kalanya numpang sama teman kerja, tetapi paling sering sewa ojek,” kata Marwan yang punya sambilan sebagai petani garapan itu.

Menjalani rutinitas sebagai buruh bangunan membuatnya harus ekstra hemat. Terkadang di tengah pekerjaan yang jauh dari rumah, Ia harus mengabaikan rasa gemetar yang mencengkram dalam perutnya demi menyisihkan uang belanja dapur untuk keluarganya.

“Biasa bawa bekal, tapi kalau buru-buru terpaksa harus tahan lapar atau dilapis roti. Soalnya tidak semua pekerjaan ada jatah makan siangnya.”

“Kalau ada angkutan umum, mungkin biaya kendaraan yang dikeluarkan sedikit lebih murah. Jadi uang jatah ojek bisa dipakai makan,” ungkap Marwan sembari tersenyum.

Marwan Pakaya

Meski masih berdiri di atas lahan milik tetangga , untuk saat ini Marwan hanya mampu memberikan fasilitas berupa rumah semi permanen untuk didiami istri dan anaknya.

Tetapi sebagai tulang punggung keluarga, pria pekerja keras ini sudah membuktikan dirinya bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya, walau fasilitas umum yang seharusnya Ia butuhkan untuk mendukung pekerjaannya tidak kunjung direalisasikan pemerintah.

Menaggapi hal ini, Kepala Dinas Perhubungan Bolsel Ikchsan Utiah mengaku baru-baru ini dalam pembahasan dengan TAPD (Tim Anggaran Pemerintah Daerah) sempat mengusulkan pengadaan kendaraan umum untuk tahun anggaran 2022 mendatang, hanya saja tidak terakomodir.

“Usulan kami terkait pengadaan kendaraan umum, tidak ada yang diakomodir karena adanya pemangkasan dana alokasi umum oleh pemerintah pusat.”

“Usulan itu sudah masuk dalam Renja Dishub Bolsel dan RPJMD Kabupaten. Artinya, dalam kurung waktu lima tahun ini, tetap akan diakomodir kebutuhan angkutan umum itu,” pungkas Kadis yang dihubungi via telepon selular, Sabtu 30 Oktober 2021.

Sejak dimekarkan dari Kabupaten Bolaang Mongondow 2008 silam, di Bolsel memang belum ada layanan penunjang seperti transportasi umum yang beroperasi di lokal wilayah.

Kondisi itu membuat kepemilikan kendaraan pribadi yang pada dasarnya hanya sebatas kebutuhan sekunder masyarakat kini telah beralih status menjadi kebutuhan pokok. Lalu bagaimana dengan warga yang belum mampu mengadakan kendaraan pribadi?

Sekedar tambahan, terkait dengan angkutan umum di Bolsel, bumantara.id sebelumnya sudah mengulas dalam artikel “Secuil Harapan Masyarakat Bolsel pada Fasilitas Angkutan Lokal Massal”. ***

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *