Banyak Anak, Nenek Soro Pilih Ratapi Nasib di Bawah Gubuk Berdinding Seutas Kain Usang

  • Share
Nenek Soro
Nenek Soro, di usianya yang ke-85 harus tinggal di gubuk.
Fakta menarik dan bermanfaat

BOLSEL, BUMANTARA.IDBerat atau ringan, jalan takdir harus dijalani. Secuil harapan untuk hidup bahagia bersama keluarga di usia senja, nampak tidak dirasakan oleh Soroini Tompunu (85) warga Desa Popodu, Kecamatan Bolaang Uki, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel).

Mata lesuh berhias keriput di wajah seolah mengisahkan perjalanan hidup Nenek Soro tidak seberuntung orang  tua pada umumnya.

Tinggal digubuk sederhana seluas 4 x 3 m dengan dinding dari kain usang, barang-barang milik Nenek Soro menumpuk tidak beraturan di pojokan termasuk alat dapur dan pakaian bekas yang diisi dalam karung.

Ditemui Senin, 25 Oktober 2021, Nenek Suro menjalani kesehariannya di gubuk ditemani cucu perempuannya Suten (15).

Berstatus yatim piatu, sejak kecil Suten bersama dua orang kakaknya Gilang (20) dan Sukman(25) dibesarkan oleh Nenek Soro. Kini Gilang bekerja sebagai penambang di Kalimantan sementara Sukman tukang kebun harian di Bolsel.

Fakta menarik dan bermanfaat

Sedikit cerita dari Nenek Soro, selama perjalanan hidupnya, Ia sudah empat kali menikah. keempat suaminya telah meninggal dunia dan dikaruniai Tujuh orang anak, Empat Laki-laki dan Tiga perempuan.

Sekarang menghuni gubuk yang jauh dari kata layak, Nenek Soro dulunya tinggal di rumah anaknya yang keempat, Honjo (50-an). Ia pun lari dari rumah, alasannya cukup miris, katanya takut anaknya.

 “Honjo bademon lantaran banyak tai ayam dalam rumah, kong dia bage deng tamako itu dinding (Honjo mengamuk karena banyak tai ayam dalam rumah, terus dia hantam kapak itu dinding).”

Saya tako, jadi saya lari (Saya takut, jadi saya lari)” ungkap Nenek Soro dengan nada sendu.

Nenek Soro pun mengaku sudah bertekad tinggal di gubuk itu. Sebidang tanah tempat gubuk itu berdiri merupakan warisan dari suaminya yang keempat.

. “Dulu waktu saya masih kuat sama-sama deng paitua jaga iko baparas padi, doi kitorang tabung-tabung beli tanah ini (Dulu sama-sama dengan suami saya sering ikut memaras padi. Uang yang kita dapat ditabung-tabung untuk beli tanah ini),” katanya.

Kurang lebih dua bulan Nenek Soro tinggal di gubuknya, untuk makan sehari-hari Ia banyak menerima uluran tangan dari anak, cucu dan tetangganya.

Saya yang penting ada beras. Kalo so ada nasi biar cuma sayor atau sedang garam pun saya so bisa makan (Saya yang penting ada beras. Kalau ada nasi biar cuma sayur atau garam pun saya sudah bisa makan)” tandas Nenek Suro.

Kendati rumah Poppy (40-an) anaknya yang sulung hanya berdiri tepat di belakang gubuk bekas kantin itu, Nenek Soro sepertinya enggan membebani anaknya yang juga nampak hidup pas-pasan.

 “Mama  tidak mau tinggal di rumah, jadi saya paksa kalau mau tidur di rumah saja. Tetapi kalau siang dia balik lagi di tempat itu, bahkan memasak sendiri,” singkat Poppy.

Kondisi ini lantas menggugah hati Bupati Bolsel, Haji Iskandar Kamaru. Senin 25 Oktober, bupati ditemani sejumlah pejabat Pemda menemui langsung Nenek Soro.

“Insya Allah besok (26 Oktober 2021) kita akan bangun tempat tinggal Nenek Suro. Pakai bahan-bahan yang kuat termasuk cor dan plaster, supaya lama ditinggali.”

“Saya berharap, kedepan anak-anak Nenek Soro lebih memperhatikan kondisinya orang tuanya. Sudah tua dan rentah harus benar-benar dijaga,” imbau Iskandar. ***

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *